?

Log in

gloomy

Standing in the Snow part 2

Mata kuliah hari ini benar-benar membosankan, tak ada satupun yang mudah kupahami, dosen menjelaskan pun susah pula.
Besok malam tahun baru, apakah kak Aoshi datang ke rumahku nggak ya? Kubuka ponselku dan menelepon kak Aoshi.
".....nomor yg Anda tuju berada dalam luar jangkauan atau sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi..." 
Huh! Pasti ponselnya dimatikan segala! Bete! Nanti malam aja lah semoga hpnya nyala lagi.


+++++++++++++++++++
Kubuka hpku lagi, semoga hp kak Aoshi hidup lagi.
"Tuuuuuutttt....."
"Halo..?"
"Hikari ya? Ada apa?"
"Bukannya ada apa, kamu tuh yang kenapa tadi siang hp kamu gak aktif?"
"Oh maaf, aku lupa menyalakan hpku. Memangnya penting ya?"
"Huh, sekarang kamu melupakan aku ternyata. Oh ya, besok kamu datang ke rumahku gak? Besok hari Minggu sudah tahun baru lho..."
"Hmm, gimana ya.... mungkin aku bisa datang"
"Hmm oke oke, nanti sekalian pesta minum teh. Ayahku boleh mengundangmu lho..."
"Makasih ya sudah mengundangku. Aku akan datang besok malam, tunggulah aku di stasiun."
"Oke."
Kututup hpku. Yes! Besok kak Aoshi bakal datang ahahahhaha.


++++++++++++++++++++
Hah, sudah jam 8 pagi. Aduh, tiba-tiba pinggulku sakit. Hari ini aku harus membantu buat besok.
Kubersihkan lantai ruangan dengan mop, kemudian mencuci baju, lalu membantu memasak. Aduh, pinggul dan perut mulai nyeri lagi. Kuhentikan pekerjaan rumah, lalu belajar untuk ujian semester besok Selasa.
Kuterus mengerjakan soal-soal sampai tertidur 1 jam hingga rasa sakitku ini tak terasa.
Malam telah tiba, kira-kira kak Aoshi sudah berangkat belum ya? Segera kukirim pesan lewat sms. Setengah jam kemudian, sms muncul, ternyata dari kak Aoshi bahwa dia akan datang jam 12 tepat.
Hatiku sangat senang, aku langsung makan malam lalu pergi ke stasiun untuk menjemput kak Aoshi.
Kupakai jaket tebal dan sepatu, lalu aku langsung pamit.
"Bu, aku pergi dulu ke stasiun untuk menjemput kak Aoshi."
Ibu membalas, "Ya, hati-hatilah, nak."
Aku mengangguk. Kunaiki taksi yang menuju stasiun Shin-Osaka. Semoga perjalanannya lancar di sana.
Salju turun kembali dengan lebat, udara semakin dingin. Tiba-tiba tubuhku seperti ditusuk-tusuk sesuatu. Kurapatkan jaketku dengan erat. Aku terus batuk-batuk sampai batuk berat dan pusing yang muncul secara mendadak.
+++++++++++
Sesampai di stasiun Shin-Osaka, aku turun perlahan menjaga tubuhku yang melemah ini. Kupandang salju turun, kulihat, kurasakan, betapa indahnya, tapi, tubuhku kembali melemah lagi, batuk-batuk lagi, pusing lagi, hingga batukku ini..... mengeluarkan darah? Aku tak percaya, mengapa aku semakin melemah dan memburuk? Aku langsung masuk ke dalam stasiun dan duduk di bangku panjang yang sangat dingin.
Sudah 3 jam aku menunggu kak Aoshi datang sampai ketiduran sambil membawa segelas kopi hangat. Kupandang arlojiku ternyata sudah jam 12 malam. Kuharap kak Aoshi selamat tak ada kendala dalam perjalanan. Tahun sudah berganti, tapi aku tak mendengar suara kembang api sama sekali. Aku kembali tidur sambil menunggu. Satu jam kemudian, aku bangun lagi, kulihat sosok tinggi berjalan ke arahku. Ternyata benar, itu kak Aoshi.
"Maaf membuatmu lama menunggu, Hikari... tadi keretanya macet mendadak...."
Aku tersenyum, "Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah datang, tapi sebelum ke rumahku, lihat salju dulu yuk...." Kupegang tangan kak Aoshi keluar stasiun, melihat salju masih turun sejak awal.
"Kak Aoshi...."
"Ya?"
"Saljunya bagus ya...."
"Iya... Oh ya kamu bilang nanti ada pesta minum teh? Jadinya kapan?"
"Nanti siang."
"Hmmm...."
"Yaahhh...... aku gak bisa lihat kembang api tadi, ketiduran waktu aku menunggumu..."
"Aku juga.... maaf ya aku tidak bisa mengajakmu melihat kembang api tahun baru..."
"Tidak apa..... salju itu.... aku harap aku bisa melihat salju lagi di tahun depan....."
"Apa maksudmu, Hikari?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa kok, hehehehe.... jangan dipikirkan...." Aku berbohong. Namun, seandainya aku tak bisa melihat salju lagi di tahun depan bagaimana? Apakah aku.... ? Tiba-tiba kepalaku pusing lagi, pandanganku kabur, tubuhku menggigil kedinginan lagi, tanganku mulai membeku, aku terus batuk-batuk sampai mual. 
"Uhuuukkk.........uhuuuukkkkk...............hhhhahh....hahhhh...." Nafasku tersengal-sengal. Kurapatkan jaketku lagi untuk melawan dingin yang jahat ini. Aku jatuh terduduk.
"Hikari, kenapa kamu?"
"Uhuukkk....ah, cuma batuk biasa.... uhuk.... uhuukk.....uhuukkkk.........uhukkkkkk...... hueeeeekkkkkhhhh........"
Akkhh!!! Muntah darah lagi!!!! Tidak, jangan sampai kak Aoshi tahu aku jadi begini....!
"Hikari???? Hikari??? Kamu kenapa, kamu sakit????"
"Aku.....baik.....baik.... saja......." Pandanganku nanar, sulit untuk membuka mata, nafasku semakin memburu, tubuhku lemas, kaku karena dingin, membuatku akan tak sadarkan diri.
"BRUUUKKK!!!!!"
"HIKARI!!!!!"
Hanya panggilan namaku yang kudengar, dan dingin yang kini kurasakan.
++++++++++++++++++++++
Tags: ,

Comments